Aku hanya berusaha menyibukkan diri. Agar, segala yang terjadi tak menghalangi hari. Hari yang yang harus terus dijalani. Bukan sebab pilihan diri tapi memang sudah menjadi nasib. Bukan lagi takdir.

Kadang aku bertanya-tanya. Katanya hidup adalah pilihan lantas mengapa aku tak dapat memilih. Hidup yang bahagia dan hidup yang penuh duka. Mengapa aku ak dapat memilih. Mengapa?

aku tau jika hidup tak selalu pasal bahagia yang dipenuhi gelak tawa. Atau bahkan tawa yang selalu menyertai bahagi. Semua akan berlalu pada waktunya nanti. Begitu kan. Tapi mengapa aku tak dapat memilih?.

Kali ini aku sama bersikap biasa saja. kenapa? karenaaku tak mau kembali kecewa. Yang pernah dirasa, pada masanya. sakit tau bahkan perih melilit. Tak tahu siap yang hendka mengobati. Tak ada meski diri telah mencari. Hanya aku , diri sendiri yang bisa mengatasi. Yang bisa mengobati, diri yang terlukai.

Makanya aku tak mau kembali terlukai. Sebab tak ada yang mampu juga mau mengobati selain diri sendiri. Memang tak seharusnya aku berfikiran seperti ini. Hanya karena satu biji manusia. aku malah membenci semua makhluknya. Sunggu egosinya aku jika seperti itu. Maka dari itu aku memilih menjadi biasa aja. Sekalipun dia yang kucinta, biasa aja. Sebab jika ada cinta maka luka pasti adanya. semua sepaket. Ada tawa ada duka. Begitukan? 

Malam ini aku memilih biasa saja. Menyibukkna diri. Menghilang dari dunia maya. Sebab, aku yang engah terluka.a ku hanya ibin mengobati agar tak sekamin menjadi--jadi. Itu saja sekian.


Komentar